# Bab XIX — orang disebutkan di atas dibahas, kini saya ingin dengan Singkat

SETELAH bagian-bagian yang paling penting dari sifat-sifat
orang disebutkan di atas dibahas, kini saya ingin dengan Singkat
menyinggung. sifat-sifat lainnya secara umum. Raja harus,
seperti sudah dikemukakan, menghindari hal-hal yang akan
membuatnya dibenci atau direndahkan; dan kalau ia berhasil
dalam hal ini, ia sudah melakukan kewajibannya dengan baik dan
tidak akan mengalami bahaya, meskipun ia melakukan
kejahatan-kejahatan lainnya. Ia terutama akan dibenci, seperti
saya kemukakan, kalau bersikap rakus dan menggagahi harta
dan istri para bawahannya; ini harus dihindarinya, Selama ia
tidak merebut sebagian besar harta atau kehormatan mereka,
mereka akan bersikap baik dan puas. Ia hanyalah harus bersaing
dengan sejumlah orang yang berambisi dan gelisah dan hal ini
dapat dengan mudah dikendalikan dengan banyak cara. Ia akan
dipandang rendah kalau la mendapat Julukan sebagai orang yang
mudah berubah sikap, sembrono, lemah, pengecut dan tidak
tegas; seorang raja harus menghindari hal ini seperti suatu
wabah dan berusaha untuk menunjukkan dalam bertindak:
keagungan, keberanian, kewajaran, kekuatan. Kilau harus
menyelesaikan pertikaian di antara para bawahannya, harus
diperhatikan bahwa keputusannya tidak dapat ditarik kembali.
Dan ia harus dihormati sedemikian rupa sehingga tak ada orang
yang pernah berpikir untuk mencoba menipu atau mempermain41

Yang dimaksud ialah Ferdinand dari Aragon.

kannya.
Raja yang berhasil membuat dirinya dihormati sedemikian itu
sangat dihargai; dan terhadap orang yang sangat dihormati sulit
untuk mengadakan persekongkolan dan serangan secara terangterangan sulit pula, asalkan ia diakui sebagai orang besar yang
dihormati oleh para bawahannya. Ada hal yang harus ditakuti
oleh raja: subversi dari dalam di antara para bawahannya dan
serangan dari luar oleh kekuatan asing. Mengenai hal yang kedua
ini, pertahanannya terletak dalam persenjataan yang lengkap dan
mempunyai sekutu yang baik. Dan jika ia memiliki persenjataan
lengkap, ia akan selalu memiliki sekutu yang baik. Tambahan
pula, masalah-masalah dalam negeri akan selalu dapat
dikendalikan asalkan hubungan dengan kekuatan luar juga
terkendalikan dan selama hubungan tersebut belum dikeruhkan
oleh suatu persekongkolan. Kalaupun ada kericuhan di luar
negeri, jika raja memerintah dan hidup seperti yang saya
kemukakan dan jika ia tidak menyerah, ia selalu akan dapat
memukul mundur setiap serangan, sama seperti Nabis orang
Sparta yang saya kemukakan. Kemudian, sejauh masalah
menyangkut para bawahan dan jika tidak ada kericuhan di luar
negeri, ketakutan utama raja ialah suatu persekongkolan rahasia.
Ia akan dapat menjaga diri terhadap hal ini kalau ia berusaha
untuk tidak dibenci atau dicemoohkan dan rakyat hidup tenang:
hal ini, seperti dikemukakan di atas, sangat penting. Salah satu
cara ampuh menanggulangi persekongkolan ialah berusaha untuk
dibenci rakyat. Karena, orang yang bersekongkol selalu
beranggapan bahwa dengan membunuh raja ia akan membuat
hati rakyat puas. Tetapi jika ia beranggapan bahwa ia akan
membuat rakyat marah, ia tidak akan pernah berani
melaksanakan usaha tersebut, karena akan menghadapi
rintangan yang tak terhingga banyaknya dalam usaha
bersekongkol tersebut. Pengalaman menunjukkan bahwa banyak
persekongkolan tetapi sedikit saja yang berhasil karena orang
bersekongkol tidak bisa bertindak sendirian dan mereka tidak

dapat menemukan kawan kecuali dari antara orang-orang yang
merasa tidak puas. Dan kalau Anda mengutarakan niat Anda
kepada orang yang tidak puas, Anda memberinya sarana untuk
mendapatkan kepuasan tersebut. Dan dengan diungkapkannya
sarana tersebut ia dapat berharap memperoleh apa yang
dikehendakinya. Karena dari satu pihak ia tahu bahwa itu dapat
memberikan keuntungan, tapi-dari lain pihak ia pun menyadari
bahwa usaha tersebut tidak pasti serta penuh resiko, orang
semacam itu akan merupakan kawan yang aneh bagi Anda atau
kalau tidak seorang musuh tangguh bagi raja jika ia setia kepada
Anda. Secara singkat, saya mengemukakan bahwa di pihak
pembangkang hanya ada rasa takut, iri dan masa depan yang
penuh kecemasan akan mendapat hukuman. Di pihak raja
terdapat keagungan negara, ada hukum, dukungan dari sahabat
dan negara untuk melindunginya. Dapat ditambahkan di sini
adanya kecintaan rakyat dan tak terpikirkan bahwa ada orang
yang sedemikian gilanya untuk membangkang. Karena dalam
keadaan biasa saja seorang pembangkang merasa takut sebelum
bertindak, apalagi dalam hal ini ia merasa takut pula melakukan
niatnya, karena menyadari rakyat memusuhinya dan tidak dapat
mengharapkan rakyat akan melindunginya.
Saya dapat menyajikan contoh yang tak terbilang banyaknya
mengenai hal ini, tetapi cukup kalau saya utarakan satu contoh
saja, yang terjadi menurut cerita nenek moyang kita. Bangsa
Canneschi membangkang dan membunuh Messer Annibale
Bentivogli, nenek dari Annibale raja Bologna sekarang ini. Pewaris
satu-satunya yang masih tinggal adalah Messer Giovanni, yang
pada waktu itu masih bayi. Tetapi sesudah pembunuhan itu
terjadi, rakyat bangkit dan membunuh semua keluarga
Canneschi. Rakyat terdorong oleh cinta mereka yang sudah
terjalin terhadap Wangsa Bentivogli pada waktu itu. Sedemikian
besar kecintaan rakyat itu sehingga meskipun tidak ada pewaris
yang mengambil alih pemerintahan pada waktu Annibale mati,
rakyat Bologna, karena mendengar ada seseorang di Florence

yang juga merupakan anggota keluarga Bentivogli tetapi sampai
pada waktu itu dianggap sebagai anak seorang pandai besi,
mereka pergi ke Florence dan mencari orang tersebut. Mereka
mempercayakan pemerintahan kota kepadanya dan ia memegang
kekuasaan sampai Giovanni cukup umur untuk memegang pemerintahan.
Dengan demikian, saya menyimpulkan, bahwa kalau seorang
raja dicintai oleh rakyatnya, ia tidak perlu khawatir terhadap
adanya pembangkangan. Tetapi kalau rakyat membencinya dan
memandangnya dengan penuh kedengkian, ia akan merasa takut
terhadap setiap orang. Negara yang diperintah dengan baik dan
raja yang bijaksana selalu berusaha keras untuk tidak membuat
para bangsawan berputusasa dan berusaha memuaskan dan
membahagiakan rakyatnya. Inilah usaha yang paling penting
yang harus dilakukan seorang raja.
Dari antara kerajaan yang berpemerintahan baik pada zaman
kita ini, adalah kerajaan Prancis. Prancis memiliki lembagalembaga penting yang tak terbilang banyaknya, yang mendukung
kebebasan raja untuk bertindak dan mendukung kekuasaannya.
Salah satu dari lembaga tersebut adalah parlemen dan wewenang
yang dimilikinya. Pendiri negara Prancis, karena mengetahui
ambisi dan kekurangajaran para bangsawan, memandang perlu
untuk mengekang mulut mereka. Di lain pihak, ia ingin
memberikan jaminan kepada rakyat, karena mengetahui
bagaimana rakyat merasa takut terhadap para bangsawan,
sehingga juga membenci mereka. Ia tidak menginginkan bahwa
hal ini menjadi tanggung jawab raja saja, karena ia ingin
menyelamatkan raja dari kecaman para bangsawan lantaran ia
memihak rakyat dan dari kecaman rakyat lantaran ia memihak
para bangsawan. Karena itu ia mendirikan suatu badan yang
independen untuk menundukkan para bangsawan dan memihak
rakyat yang lemah, tanpa menimbulkan kecaman bagi raja. Tidak
ada lembaga yang lebih baik atau lebih peka atau yang lebih
efektif dalam memberikan jaminan keamanan bagi raja dan

kerajaannya.
Dari hal ini dapat ditarik suatu pertimbangan yang pantas
kita perhatikan: bahwa para raja harus menunjuk orang lain
untuk
melaksanakan
tindakan-tindakan
yang
kurang
menyenangkan rakyat dan melakukan sendiri pembagian
penghargaan kepada rakyat. Sekali lagi, raja harus tetap
menghargai tinggi para bangsawan, tetapi tidak membuat dirinya
dibenci rakyat.
Banyak orang yang sudah mempelajari hidup dan kematian
kaisar Romawi tertentu, mungkin berpendapat bahwa mereka
merupakan contoh-contoh yang berlawanan dengan pandangan
saya. Beberapa kaisar secara konsisten hidup baik dan
menunjukkan berpandangan tegas, toh akhirnya jatuh pula dari
kekuasaan mereka atau bahkan dibunuh oleh orang-orang yang
membangkangnya. Untuk menjawab keberatankeberatan ini,
saya akan membicarakan sifat-sifat dari beberapa kaisar, dengan
menunjukkan bahwa sebab kehancuran mereka tidaklah berbeda
dari sebab yang sudah saya utarakan. Saya akan menyajikan
contoh untuk dipertimbangkan yang cukup dipahami oleh mereka
yang mempelajari zaman itu. Saya juga akan membatasi diri
pada para kaisar yang berkuasa dari Marcus, seorang filsuf,
sampai pada Maximinus. Kaisar-kaisar tersebut adalah: Marcus
Aurelius, Commodus puteranya, Pertinax, Julianus, Severus,
Caracalla puteranya, Macrinus, Heliogabalus, Alexander dan Maximinus.42
Yang pertama perlu dicatat di sini, kalau para pangeran
harus berjuang keras untuk melawan ambisi para bangsawan dan
42

"Uraian Machiavelli mengenai para kaisar ini didasarkan atas sejarah
Kekaisaran Romawi sejak kematian Marcus Aurelius sampai Gordianus III naik
tahta, yang ditulis oleh Herodianus. Pada masa hidup mereka, banyak
peristiwa yang diuraikan tersebut memang terjadi. Machiavelli hampir pasti
menggunakan terjemahan bahasa Latin dari sejarah Herodianus tersebut (yang
ditulis dalam bahasa Yunani) dan diterbitkan pada tahun 1493 oleh Poliziano,
seorang penyair teman Lorenzo de' Medici.

kekurangajaran rakyat, maka para kaisar Romawi harus
menghadapi kesulitan ketiga: mereka harus menghadapi
kekejaman dan kerakusan para serdadu. Ini merupakan tugas
yang berat dan yang menyebabkan jatuhnya banyak kaisar,
karena sulit sekali memuaskan baik para serdadu maupun rakyat.
Rakyat yang suka damai, menyukai kaisar yang tidak suka
berpetualang, sedangkan para serdadu menyukai raja yang suka
perang, raja yang sombong, kejam dan suka merampok. Mereka
menginginkan agar sifat-sifat itu diterapkan pada rakyat,
sehingga mereka mendapatkan bayaran lebih tinggi dan dapat
memuaskan kerakusan dan kekejaman mereka sendiri. Sebagai
akibatnya, para kaisar yang tidak memiliki kewibawaan atau
kehormatan untuk mengendalikan baik para serdadu maupun
rakyat selalu menderita. Kebanyakan dari mereka, khususnya
mereka yang baru memerintah, jika mereka melihat adanya
kesulitan untuk memuaskan dua golongan yang saling
berlawanan ini, memihak serdadu dan tidak peduli melukai
perasaan rakyat. Kebijaksanaan itu penting: para raja tidak boleh
membiarkan kebencian berkembang di beberapa kalangan. Untuk
itu pertama-tama mereka harus berusaha untuk tidak dibenci
oleh semua lapisan rakyat dan bawahannya. Kalau hal ini
ternyata tidak mungkin, mereka harus berusaha untuk tidak
dibenci oleh kelompok yang paling berpengaruh dan kuat. Karena
itu para kaisar, sebagai orang bar.u dalam pemerintahan, tidak
membutuhkan dukungan rakyat biasa, tetapi lebih bersedia
mempertaruhkan nasib mereka pada para serdadu daripada
kepada rakyat. Namun apakah hal ini menguntungkan atau tidak,
tergantung apakah raja atau kaisar tersebut mengetahui
bagaimana mempertahankan kedudukannya dalam pasukan.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, terjadilah bahwa
Marcus Aurelius, Pertinax dan Alexander, yang hidup tanpa
petualangan, yang cinta keadilan, benci akan kekejaman, baik
hati dan ramah, semuanya, kecuali Marcus, mengalami akhir
yang menyedihkan. Hanya Marcus satu-satunya yang dijunjung

tinggi selama hidup maupun sesudah kematiannya, sebab ia naik
tahta karena hak keturunan dan tidak berhutang budi kepada
para serdadu atau rakyat. Lagi pula karena ia memiliki banyak
kemampuan yang menyebabkan orang hormat padanya; selama
hidupnya ia berhasil mengendalikan kedua kelompok itu dan tidak
pernah dibenci ataupun dicerca. Tetapi Pertinax menderita pada
awal pemerintahannya. Ia dijadikan kaisar bertentangan dengan
keinginan para serdadu, yang sudah terbiasa hidup seenaknya di
bawah pemerintahan Commodus dan karenanya tidak dapat
menerima kebijaksanaan Pertinax yang hendak memaksakan
mereka supaya hidup secara terhormat. Karena itu raja dibenci
dan juga karena ia seorang yang sudah tua, diolok-olok.
Dan perlu diingat di sini bahwa orang dapat dibenci karena
perbuatan baik atau perbuatan jahat, sehingga, seperti yang saya
kemukakan di atas, seorang raja yang ingin mempertahankan
pemerintahannya kerap kali terpaksa untuk tidak bertindak baik,
karena kalau kelompok manusia yang Anda anggap merupakan
pendukung berlangsungnya pemerintahan Anda adalah orangorang yang tidak baik, entah itu rakyat atau serdadu atau para
bangsawan,
Anda
harus
memuaskan
mereka
dengan
menggunakan cara yang sama dan karenanya perbuatan baik
merupakan musuh Anda. Kita tengok Alexander. Ia seorang yang
begitu baik hati, sehingga dari antara perbuatan-perbuatan yang
dipuji, orang mengatakan bahwa selama empat belas tahun
memerintah ia tidak pernah menghukum mati seseorang tanpa
diadili terlebih dahulu. Namun, karena dia dipandang lemah,
seorang yang membiarkan dirinya diperintah oleh ibunya, ia
dicemoohkan
dan
angkatan
perang
membangkang
dan
membunuhnya.
Sebaliknya dengan membahas sifat-sifat Commodus, Severus, Antonms Caracalla dan Maximinus, akan kita temui bahwa
mereka sangat kejam dan rakus. Untuk memuaskan para
serdadu, tidak ada kejahatan yang tidak mereka timpakan kepada
rakyat. Dan semua mereka itu, kecuali Severus, mengalami akhir

yang menyedihkan. Severus adalah seorang yang gagah berani,
menjaga hubungan baik dengan pasukan, walaupun rakyat
tertindas olehnya, ia memerintah dengan berhasil sampai pada
akhir. Karena keberaniannya itu, para serdadu dan rakyat hormat
padanya. Rakyat tinggal selalu terheran-heran dan tertegun,
sedangkan para serdadu terhormat dan makmur.
Karena tindakan Severus itu merupakan tindakan yang
istimewa dan luar biasa bagi seorang raja yang baru, saya ingin
menunjukkan dengan singkat seberapa jauh ia sungguh
menguasai cara memerankan sifat rubah dan singa, yang
sifatnya, seperti telah saya kemukakan di atas, harus ditiru oleh
seorang raja baru. Karena mengetahui kelemahan Kaisar
Julianus, Severus yang memimpin pasukan di Slavonia bergerak
ke Roma untuk membalas dendam atas kematian Pertinax, yang
telah dihukum mati oleh Pasukan Pretorian. Dengan kedok ini,
tanpa ada kesan bahwa ia bercita-cita merebut kekaisaran, ia
memimpin pasukannya melawan Roma. Ia tiba di Italia sebelum
keberangkatannya diketahui. Setibanya di Roma, Senat, karena
merasa takut terhadapnya, mengangkatnya menjadi kaisar dan
membunuh Julianus. Tinggallah kini dua masalah yang harus
dihadapi Severus sebelum ia dapat memperoleh seluruh
kekuasaan secara penuh atas kekaisaran tersebut. Satu di Asia,
tempat Nigrinus, panglima pasukan di Asia yang mengangkat
dirinya. sebagai kaisar. Yang kedua di sebelah barat adalah
Albinus, yang juga bercita-cita menjadi kaisar. Dan karena
dipandang berbahaya menunjukkan dirinya bermusuhan dengan
kedua panglima tersebut, Severus memutuskan untuk menyerang
Nigrinus dan menipu Albinus. Kepada Albinus ia menulis surat
bahwa setelah dipilih menjadi kaisar oleh Senat ia ingin bersamasama memerintah dalam kedudukan terhormat tersebut. Ia
memberikan gelar Caesar padanya dan dengan kemufakatan
Senat, ia dinyatakan rekan dalam menduduki tahta kekaisaran.
Semuanya ini diterima sebagai suatu yang benar oleh Albinus.
Tetapi setelah Severus menundukkan dan membunuh Nigrinus

dan mengamankan situasi di Timur, ia kembali ke Roma dan
menuduh Albinus dalam sidang Senat bahwa ia tidak berterima
kasih atas kehormatan yang telah diberikan kepadanya dan
bahkan telah berkhianat mencoba membunuh dirinya. Karena hal
inilah, kata Severus pula, perlu bahwa dia menghukum sikap
yang tidak tahu berterima kasih tersebut.
Ia lalu memimpin pasukannya ke Prancis dan merebut
kekuasaan dan membunuh Albinus.
Setiap orang yang mempelajari dengan cermat perbuatan
orang ini akan melihat bahwa ia memiliki sifat-sifat singa yang
ganas dan rubah yang sangat licik dan bahwa ia ditakuti dan
dihormati oleh setiap orang, namun tidak dibenci oleh pasukan.
Dan tidak perlu heran, meskipun ia seorang yang masih baru,
mampu mempertahankan kekuasaan yang begitu besarnya,
karena keharuman namanya melindunginya selalu dari kebencian
rakyat yang menderita karena sikap rakusnya. Dan Antoninus
Caracalla, puteranya, juga merupakan seorang yang memiliki
sifat-sifat yang luar biasa yang mengagumkan rakyat dan
membuatnya dicintai dan dihormati baik oleh rakyat maupun
pasukan. Ia adalah seorang militer, mampu bekerja betapapun
beratnya dan ia mencela segala bentuk hidup santai, baik di meja
makan maupun di mana saja. Hal ini mendapatkan penghargaan
besar "dari pasukan. Namun keganasan dan kekejamannya
sedemikian besarnya dan tidak ada duanya (setelah membunuh
orang-orang yang tak terhitung jumlahnya, ia menghukum mati
sejumlah besar orang Romawi dan semua penduduk Alexandria)
sehingga dibenci di mana-mana. Bahkan orang yang terdekat
dengannya mulai merasa takut. Dan sebagai akibatnya ia dibunuh
oleh seorang centurion ;43 pada waktu ia dikepung oleh
pasukannya. Perlu diingat di sini bahwa para raja tidak dapat
menghindar dari maut kalau usaha pembunuhan itu dilakukan
43

Centurion adalah komandan di zaman Romawi kuno yang mengepalai
kurang lebih 100 orang serdadu.

oleh seorang fanatik, karena setiap orang yaqg tidak mempunyai
rasa takut terhadap maut dapat berhasil melakukan pembunuhan
tersebut. Di lain pihak, raja tidak perlu begitu khawatir, karena
pembunuhan itu jarang terjadi, namun, raja harus menahan diri
dari tindakan yang merugikan atau menyiksa orang yang bekerja
bagi dia dan orang yang dipercaya dalam urusan negara. Itulah
kesalahan yang dilakukan Antoninus. Ia menghukum mati,
dengan cara yang hina, saudara dari centurion. Centurion ini
kemudian mendapat ancaman setiap hari, meskipun masih tetap
menjadi anggota pasukan pengawal. Tingkah laku yang gegabah
ini akhirnya mendatangkan malapetaka baginya seperti terbukti
pada akhirnya.
Kita tengok kini hidup Commodus. Baginya, memerintah
kekaisaran merupakan suatu tugas yang mudah, karena ia adalah
putera Marcus Aurelius; ia naik tahta karena warisan. Ia hanya
harus mengikuti jejak ayahnya dan pasti ia akan membuat
senang pasukan dan rakyat. Tetapi, karena ia seorang yang
kejam, bersifat binatang, ia berusaha memuaskan keinginan para
serdadu dan membuatnya tidak berdisiplin lagi, agar ia dapat
melaksanakan dan memenuhi kerakusannya terhadap rakyat. Di
lain pihak, ia lupa akan martabatnya, kerap kali turun ke
gelanggang untuk bertarung dengan para gladiator dan
melakukan hal-hal yang nista yang samasekali tidak pantas bagi
keagungan
kaisar.
Sebagai
akibatnya,
para
serdadu
memandangnya rendah. Karena dibenci di satu pihak dan
dipandang hina di lain pihak, ia menjadi korban pembangkangan
yang berakhir dengan kematiannya.
Kini tinggal bagi kita membahas sifat Maximinus. Ia seorang
yang suka perang dan pasukan, karena muak terhadap sifat
lemah Alexander, yang sudah saya bicarakan di atas, memilihnya
menjadi kaisar sesudah kematian Alexander. Ia tidak memegang
pemerintahan itu dalam waktu yang lama, karena dua hal
membuatnya dibenci dan direndahkan. Pertama, ia berasal dari
lapisan rakyat yang terendah, pernah menjadi gembala domba di

Trace (hal ini diketahui setiap orang dan membuatnya rendah di
mata orang). Kedua, pada waktu ia mengambil alih kekuasaan ia
membatalkan pergi ke Roma untuk secara resmi dinobatkan
sebagai kaisar dan ia memberikan kesan kepada rakyat sebagai
orang yang sangat kejam karena ia melalui para panglimanya
melakukan siksaan banyak sekali di Roma dan di daerah-daerah
lain wilayah kekaisarannya. Akibatnya, bangkitlah suatu rasa
tidak senang di mana-mana menentangnya karena asal usulnya
yang rendah dan bangkitnya rasa benci karena rasa takut akan
keganasannya. Pertama, timbul pemberontakan di Afrika dan
kemudian perlawanan dari Senat yang mendapat dukungan
seluruh rakyat Roma. Seluruh Italia berkomplot melawan dia.
Komplotan didukung oleh pasukannya sendiri, yang pada waktu
mengepung Aquileia dan menghadapi banyak kesulitan dalam
merebut kota tersebut, merasa muak terhadap keganasannya.
Karena tahu ada begitu banyak musuh yang menentang dia,
mereka tidak merasa begitu takut lagi terhadapnya dan mereka
membunuhnya.
Saya tidak mau membicarakan Heliogabalus atau Macrinus
atau Julianus, yang sama sekali dipandang rendah di mata rakyat
dan karena itu mereka tidak lama memerintah. Namun saya
dapat menyimpulkan bahwa para raja dewasa ini tidak begitu
mengalami kesulitan dalam hal mengambil langkahlangkah
istimewa untuk memuaskan para serdadu. Mereka memang harus
mempertimbangkannya; tetapi masalah ini dengan mudah segera
diselesaikan, karena para raja dewasa ini tidak memiliki pasukan
yang selalu siaga, seperti pasukan Kekaisaran Romawi, yang
sudah
membaku
dalam
pemerintahan
pusat
maupun
pemerintahan wilayah-wilayah yang ditaklukkan mereka. Karena
itu, pada masa kekaisaran Romawi adalah lebih penting
memperhatikan tuntutan pasukan daripada tuntutan rakyat,
karena pasukan memiliki kekuatan lebih daripada rakyat. Dalam
zaman kita mi, penting bagi semua penguasa, kecuali bangsa

Turki dan Sultan,44 untuk berdamai dengan rakyat daripada
dengan paspkan, karena rakyat lebih berkuasa. Saya
mengecualikan barlgsa Turki, karena raja Turki memelihara
pasukan yang terdiri dari dua belas ribu pasukan darat dan lima
belas ribu pasukan kuda, yang sangat penting bagi keamanan
dan kekuatan kerajaannya. Dan ia harus mengutamakan
pertimbangan untuk mempertahankan kesetiaan pasukan dengan
menyisihkan pertimbangan lainnya. Demikian juga dengan
wilayah kekuasaan Sultan vang sepenuhnya berada di tangan
pasukan dan ia juga, tanpa memikirkan rakyat, harus menjaga
persekutuan dengan pasukan. Perlu diingat bahwa negara Sultan
berbeda dengan kerajaan-kerajaan lainnya; negara Sultan mirip
dengan tahta kepausan, yang tidak dapat disebut baik sebagai
kerajaan karena warisan maupun suatu kerajaan baru. Bukanlah
putera raja yang memerintah vang akan mewarisi tahta kerajaan,
tetapi seorang vang dipilih oleh mereka yang mempunyai
wewenang untuk memilih. Karena sistem ini suatu yang sudah
kuno, tidak dapat dimasukkan dalam golongan kerajaan baru.
Tidak ada kesulitan yang ditemukan dalam kerajaan baru; walau
rajanya baru, lembaga negara sudah kuno dan lembaga itu
dibentuk untuk mempermudah seakan-akan dialah raja yang
berkuasa karena hak warisan.
Kita kembali membahas masalah pokok. Saya mengutarakan
bahwa siapa yang mengikuti pandangan sava akan menyadari
bahwa kehancuran para kaisar vang saya sebutkan disebabkan
baik oleh kebencian ataupun oleh cercaan. Ia juga akan
menyadari mengapa terjadi bahwa beberapa dari mereka
bertindak begini dan lainnya bertindak begitu. Kedua tindakan itu
menghasilkan akhir yang membahagiakan bagi yang satu dan
membuat yang lainnya menderita. Karena mereka merupakan
raja-raja yang baru, tidak ada manfaatnya dan berbahaya bagi
Pertinax dan Alexander untuk meniru Marcus Aurelius, yang naik
44

Raja Turki pada zaman Machiavelli hidup adalah Selim I. Dan dengan
"Sultan" yang dimaksudkannya adalah raja Mesir.

tahta karena hak warisan. Demikian juga tindakan itu menjadi
fatal bagi Caracalla, Commodus dan Maximinus untuk meniru
Severus, karena mereka tidak memiliki keberanian untuk
mengikuti jejaknya. Karena itu, seorang raja yang memerintah
suatu kerajaan baru tidak dapat meniru tindakan Marcus Aurelius
dan ia tidak harus meniru sikap dan tindakan Severus.
Sebaliknya, ia harus memilih dari sifat-sifat Severus yang perlu
untuk menegakkan negaranya dan dari sifat-sifat Marcus Aurelius
yang
dapat
dipergunakan
untuk
mempertahankan
penyelenggaraan dan kemuliaannya setelah negara tersebut
dimantapkan dan diamankan.
